KEDIRI – Perjalanan hidup Aiptu Firman Wahyu Pratama membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih kesuksesan. Anggota Provost Polres Kediri Kota itu memulai usaha dengan modal pinjaman, mengalami kegagalan hingga menjadi korban penipuan. Kini, setelah usahanya berkembang, ia memilih mengembalikan manfaat kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial dan pemberdayaan ekonomi.
Rumah Firman yang berada di Jalan Tambora, Kelurahan Bandarlor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, kini bukan sekadar tempat tinggal. Di tengah suasana yang masih dikelilingi hamparan persawahan, rumah tersebut rutin menjadi lokasi pengajian sekaligus ruang berkumpul masyarakat dari berbagai kalangan.
Di sela kesibukannya sebagai anggota Polri, Firman menyediakan tempat bagi dua forum pengajian yang berlangsung secara rutin. Menurutnya, ia hanya memfasilitasi tempat dan mempertemukan masyarakat dengan para ulama yang memberikan pembinaan.
"Saya hanya menyediakan tempat. Yang menyampaikan ilmu tetap para pengasuh," ujarnya.
Forum pertama adalah Jaringan Ngaji Keluarga yang telah berjalan sekitar empat tahun dengan jumlah jamaah mencapai sekitar 100 orang. Pengajian ini diasuh oleh ustaz dari Pondok Pesantren Al Falah Ploso.
Sementara forum kedua adalah Halaqah Semesta Muhammad yang baru berlangsung beberapa bulan terakhir dengan peserta sekitar 20 orang. Pengajiannya diasuh oleh KH Ahmad Junaidi Shiddiq dari Yayasan As-Shiddiqi.
Pengajian Jadi Sarana Memberdayakan UMKM
Bagi Firman, kegiatan pengajian tidak hanya bertujuan memperkuat nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menjadi media pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Setiap penyelenggaraan pengajian membutuhkan konsumsi dalam jumlah besar. Seluruh kebutuhan makanan dan minuman sengaja dipesan dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar Kediri sehingga mereka memperoleh tambahan penghasilan.
Selain itu, Firman juga rutin menggelar program Jumat Berkah. Dalam kegiatan tersebut, ia bekerja sama dengan warung makan lokal untuk menyediakan makanan gratis bagi masyarakat.
"Ini menjadi cara sederhana agar pelaku usaha tetap mendapat pemasukan, sementara masyarakat juga bisa merasakan manfaatnya," katanya.
Tak hanya UMKM, Firman juga mencoba merangkul para pengamen jalanan. Mereka diajak mengikuti pengajian terlebih dahulu sebelum diberikan motivasi dan pendampingan agar memiliki usaha yang lebih berkelanjutan apabila berkeinginan mengubah kehidupannya.
Berawal dari Kehidupan Serba Pas-pasan
Perjalanan tersebut berawal ketika Firman dipindahtugaskan dari Lampung ke Kediri pada 2012 bersama istrinya, Candra Puput Hapsari.
Saat itu kondisi ekonomi keluarga masih sangat terbatas. Mereka bahkan harus tinggal di sebuah kamar kos sederhana di kawasan Balowerti karena belum memiliki rumah sendiri.
Gaji sebagai anggota Polri hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Anak mereka pun sementara harus diasuh oleh orang tua.
Situasi tersebut mendorong Firman mencari sumber penghasilan tambahan.
Pilihan akhirnya jatuh pada bisnis granit setelah sebelumnya melihat peluang usaha tersebut ketika masih bertugas di Lampung.
Modal Pinjaman Rp8 Juta
Pada 2013, Firman mulai menjalankan usaha jual beli granit dengan modal pinjaman sebesar Rp8 juta dari rekan sesama anggota polisi.
Saat itu ia mengaku tidak memiliki pengalaman sama sekali di bidang tersebut. Ia harus belajar dari nol, mulai memahami ukuran material, mencari pemasok, membangun jaringan pelanggan hingga mempelajari karakteristik granit.
Namun keberanian untuk mencoba menjadi modal utamanya.
"Saya berpikir hanya ada dua kemungkinan, berhasil atau gagal. Kalau tidak mencoba, saya tidak akan pernah tahu hasilnya," ungkapnya.
Usaha yang awalnya hanya melayani satu pelanggan perlahan berkembang. Jaringan konsumennya meluas tidak hanya di Kediri, tetapi juga berbagai daerah di Jawa Timur seperti Surabaya, Malang, Probolinggo, dan Banyuwangi.
Bahkan, pelanggan juga datang dari luar Jawa, di antaranya Yogyakarta, Jakarta, Kalimantan, Sulawesi hingga Ambon.
Pernah Ditipu hingga Bangkit Kembali
Meski bisnis berkembang, perjalanan Firman tidak selalu berjalan mulus.
Ia bersama istrinya pernah menjadi korban penipuan oleh rekan bisnis sehingga mengalami kerugian besar. Kondisi tersebut membuat usahanya nyaris berhenti karena kesulitan membayar berbagai kewajiban.
Namun pengalaman pahit itu tidak membuatnya menyerah.
Perlahan ia kembali membangun usahanya hingga kini tidak hanya bergerak di bidang granit, tetapi juga interior dan furnitur.
Menurut Firman, pengalaman jatuh bangun tersebut justru mengajarkannya bahwa setiap keberhasilan merupakan amanah yang harus memberikan manfaat bagi orang lain.
Rumah Jadi Tempat Berbagi
Kesuksesan yang diraih membuat Firman semakin aktif mendampingi masyarakat.
Rumahnya kini menjadi tempat berkumpul berbagai kalangan, mulai dari pelaku UMKM, masyarakat yang membutuhkan konsultasi, anggota perguruan pencak silat, hingga warga yang sedang menghadapi persoalan tertentu.
Ia juga kerap menghubungkan pelaku usaha dengan komunitas bisnis seperti Tangan di Atas (TDA) maupun Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) agar memperoleh pendampingan yang lebih profesional.
Menariknya, seluruh kegiatan tersebut terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang agama. Beberapa peserta nonmuslim juga pernah mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan karena mengutamakan nilai kebersamaan dan pemberdayaan masyarakat.
Bagi Firman, keberhasilan bukan semata tentang pencapaian pribadi, melainkan bagaimana hasil perjuangan itu dapat menjadi jalan untuk membantu orang lain tumbuh dan berkembang.(red/lis)
Social Header